Selasa, 30 Desember 2014

Unsur-unsur budaya



1.      System religi dan upacara keagaman
Salah satu contoh dari system religi dan upacara keagaman yang ada di Desa Soka yaitu acara membaca surat yassin yang di laksanakan tiap malem jumat legi. Acara ini dilaksanakan oleh semua warga Desa Soka yang berada di RT 09 dan RT 10. Acara membaca surat yassin ini dilakukan bergantian ri rumah warga.
a.       Bentuk
Bentuk dari pelaksanaan membaca surat yasin ini yaitu acara khususnya membaca surat yssin sampai selesai dilanjut tahlilan dan membaca doa-doa yang dipimpin oleh orang yang mengerti tentang agama. Kemudian dilanjutkan dengan acara tauziah.
b.      Fungsi
Fungsi dari acara ini adalah untuk mengisi kegiatan warga ketika malem jumat. Selain itu acara membaca surat yasin dengan bersama-sama untuk mendoakan orang-orang yang telah meninggal agar mereka selalu diberi kemudahan di akhirat. Dan bagi orang-orang yang masih hidup sebagai doa keselamatan agar selalu di beri perlindungan.
c.       Makna
Membaca surat yassin ini mempunyai makna untuk mendoakan atau mengirim doa kepada  orang-orang yang sudah meninggal dan tauziah yang ada mempunyai makna sebagai pencerah hati bagi orang-orang yang mengikuti acara tersebut.


2.      System organisasi kemasyarakatan
Salah satu contoh organisasi kemasyarakatan yang ada di Desa Soka adalah kegiatan Karang Taruna. Kegiatan Karang taruna ini diikuti oleh para remaja putra dan putri. Kegiatan ini wajib diikuti bagi para remaja dan orang yang menginjak dewasa.
a.       Bentuk
Bentuk kegiatan dari Karang taruna ini adalah  perkumpulan remaja putra dan putri. Karang Taruna ini dilaksanakan 2minggu sekali.
b.      Fungsi
Kegiatan karang taruna ini mempunyai fungsi diantaranya untuk mengisi kegiatan para remaja putra dan putri disetiap minggunya. Dengan adanya kegiatan ini bisa mempererat rasa social dan tanggung jawab antar remaja. Karang taruna ini juga sebagai wadah remaja putra dan putri untuk mengisi kreatifitas atau kegiatan-kegiatan kecil di Desa Soka. Karang taruna juga berfungsi untuk membantu berbagai acara yang ada di Desa Soka contohnya ketika ada orang yang menikah mereka bisa menjadi sinoman.
c.       Makna
Dari kegiatan karang taruna ini ada makna yang terkandung di dalamnya yaitu karang yang artinya tempat dan taruna yang artinya remaja jadi karang taruna berate wadah remaja. Maksutnya karang taruna tersebut sebagai wadah para remaja untuk berkreatifitas di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.










3.      Pengetahuan
Pengetahuan dalam konteks ini adalah pengetahuan yang diketahui para warga Desa Soka mengenai filosofi suatu benda yang ada di daerah ini. Pengetahuan yang dimaksut adalah adanya bunyi kentongan ketika malam ataupun siang hari. Filosofi atau kepercayaan para warga inilah yang bisa dijadikan pengetahuan bagi anak cucu mereka di kemudian hari. Yang awalnya tidak tahu sekarang mereka jadi tahu dengan adanya pengetahuan tersebut.

a.       Bentuk
Kentongan disini sebagai bentuk pertanda bagi warga sekitar kalau didaerah tersebut sedang terjadi suatu musibah. Diantaranya pertanda kalau ada orang meninggal dan ketika sedang ada banjir. Ketika sedang ada musibah seperti itu kentongan akan dibunyikan. Tiap musibah yang ada ketukan tiap kentongan selalu berbeda.
b.      Fungsi
Fungsi kentongan tersebut adalah sebagai pertanda bagi warga sekitar kalau di daerah mereka sedang ada musibah yang terjadi. Diantaranya musibah orang meninggal dan musibah banjir. Para warga akan mengetahui musibah tersebut ketika kentongan itu dibunyikan. Ketukan kentongan untuk orang meninggal dan banjir tentunya berbeda. Itu semua mempermudah warga untuk memahami symbol ketukan.
c.       Makna
Makna dari bunyi kentong tersebut sebagai pertanda/symbol bahwa di daerah tersebut sedang ada musibah yang terjadi.






4.      Bahasa
Bahasa disini adalah bahasa keseharian yang digunakan para warga desa Soka diantaranya bahasa ngoko, karma desa dll.semua bahasa tersebut digunakan bergantung konteks yang ada dan dengan sapa kita berbicara. Namun di sisi lain ada bahasa ngoko yang berbeda dengan daerah lain. Mungkin bahasa tersebut sebagai ciri khas daerah Soka dan sekitarnya. Seperti kata ngeleh yang berarti lapar, kata itu hanya dimengerti oleh orang-orang yang berada di jawa tengah. Sedangkan di daerah timuran lebih dikenal dengan kata luwe. contoh lainnya kata pakpung yang berarti mandi, orang-orang yang berada di timur tidak memgerti kata itu mereka hanya mengerti dengan kata adus.
a.       Bentuk
Bentuk bahasa yang digunakan para warga desa Soka yaitu ragam ngoko, ragam karma kadang-kadang juga bahasa dialeg. Bahasa ini merupakan bahasa sehari-hari yang digunakan.
b.      Fungsi
Dengan bahasa yang sering digunakan setiap harimya dapat mempererat dan meningkatkan keakraban antar warga desa Soka. Bahasa ini juga tetap terpacu dengan aturan yang ada.
c.       Makna
Makna bahasa yang muncul dalam konteks ini sebagai sarana untuk mempermudah para warga desa untuk berbicara. Bahasa dialeg bisa bermakna sebagai ciri khas daerah tersebut.








5.      Kesenian
Para warga Desa Soka pada umumnya menyukai music jawa. Buktinya mereka mau belajar alat music gamelan yang ada di aula balai desa. Para warga yang menyukai kesenian ini biasanya sering mengikuti latihan pada malem rabu dan malem sabtu yang diadakan di aula balai desa. Selain itu hobbi mereka juga terlihat ketika ada salah seorang warga yang sedang mempunyai hajatan dan hiburannya klenengan/karawitan. Para warga sangat menikmati alunan slendro dan pelog yang dibunyikannya.
a.       Bentuk
Bentuk dari kesenian ini adalah sekumpulan/sekelompok warga yang belajar memainkan alat music gamelan. Slendro ataupun pelog tetap mereka mainkan. Para pengrawit sangat menikmati sehingga bisa menghasilkan alunan yang indah.
b.      Fungsi
Fungsi dari kesenian ini untuk menghiburkna warga sekitar dengan adanya latihan ini sekaligus bisa menjadikan hobbi baru bagi mereka. Fungsi dari kesenian tersebut tidak hanya itu saja namun masih ada lagi diantaranya sebagai sarana mempererat keakraban antar warga, sebagai sarana melestarikan music-musik tradisional dan ketika ada acara kesenian di Desa Soka, tidak perlu menggunakan jasa orang lain namun mereka bisa menggunakan jasa warganya sendiri.
c.       Makna
Makna yang terkandung dalam kesenian ini adalah sebagai media hiburan bagi warga Desa Soka dan juga sebagai media pembelajaran/pengetahuan terhadap alat music gamelan.





6.      Mata pencaharian
Mata pencaharian atau profesi yang dimiliki para warga Desa Soka itu bermacam-macam. Salah satunya adalah salah seorang warga yang menjadi Juru Kunci Gunung Kemukus. Profesi juru kunci ini sagat bersifat turun menurun. Tidak sembarang orang bisa berprofesi menjadi juru kunci kecuali kalau mereka merupakan keturunan dari salah seorang juru kunci Gunung Kemukus.

a.       Bentuk
Profesi juru kunci ini bersifat turun menurun.dan harus orang yang tau persis sejarah dan filosofi tempat yang dijaganya. Jabatan juru kunci biasanya diwariskan kepada anak laki-laki yang paling bungsu. Profesi ini tidak memiliki gaji/pembayaran tetapi mereka memiliki kedudukan terpenting dan terhormat di kalngan masyarakat adat.
b.      Fungsi
Juru kunci ini mempunyai fungsi/tugas yang lumayan berat diantaranya mengunci semua rahasia buruk dan menjaga semua kebaikan supaya tetap terjalin hubungan serasi antara masyarakat, adat dan alam lingkungan. Selain itu juru kunci disini juga sebagai penjaga/pengurus makam Pangeran Samudra yang berada di Gunung Kemukus. Juru kunci ini juga mengarahkan dan memimpin doa ketika ada peziarah datang.
c.       Makna
Makna dari juru kunci tersebut adalah yang pertama orang yang berprofesi sebagai . . . , yang kedua adalah orang yang secara batin mengetahui sifat sesuatu. Kalau ada seorang yang menjadi juru kunci Gunung Kemukus berarti orang tersebut berprofesi sebagai penjaga Kemukus dan yang mengerti mengenai seluk beluk kemukus.



7.      Teknologi dan mata pencaharian
Para warga yang bertempat tinggal di Desa Blaran. Desa tersebut salah satu desa yang berada di Kab.Magetan. sebagian warga di daerah tersebut masih menjadi kusir delman. Mereka  menggunakan kuda sebagai alat mereka untuk mencari nafkah. Sebut saja delman. Delman merupakan alat transportasi yang menggunakan hewan kuda.
a.       Bentuk
Bentuk dari teknologi dan mata pencaharian ini adalah kusir delman. seorang kusir yang menggunakan hewan untuk alat transportasi pedesaan. Disini kusir menggunakan hewan kuda sebagai sumber mata pencahariannya.
b.      Fungsi
Fungsi dari kuda tersebut adalah sbagai alat transportasi pedesaan yang dikendarai oleh seorang kusir. Disini kuda sangat berperan aktif karena tanpa kuda itupun seorang kusir tidak dapat melanjutkan kerjanya. Delman disini bisa mempermudah warga untuk pergi yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya.
c.       Makna
Makna kuda disini sebagai sumber mata pencaharian dari seorang kusir.


Manfaat Wayang

Pendidikan Budi Pekerti Anak

Wayang dapat dijadikan sarana pendidikan budi pekerti luhur yang efektif bagi anak-anak. Dalam pementasan wayang terdapat bentuk-bentuk ajaran moral yang lengkap dan kemudian dibakukan dalam bentuk sanepa, piwulang, dan pituduh bagi kehidupan manusia untuk mencapai kehidupan dalam suasana kedamaian. Dengan demikian, wayang merupakan cerminan falsafah hidup orang Jawa atau dengan kata lain wayang merupakan ungkapan filsafat Jawa.
Pesan-pesan moral dalam masyarakat Jawa yang disampaikan lewat media seni wayang dapat berupa ungkapan-ungkapan tradisional yang mengandung makna pendidikan moral yang sering disebut sebagai adiluhung. Ungkapan tradisional seperti sing becik ketitik sing ala ketara (yang baik kelihatan yang jelek kentara), titenana wong cidra mangsa langgenga (perhatikan orang curang takkan abadi) dan sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti (keberanian, kekuatan, dan kejayaan dunia hancur oleh kebaikan) menunjukkan bahwa eksistensi dan esensi moralitas dijunjung tinggi dalam budaya Jawa. Kebanyakan agama yang universal juga mengajarkan sikap hormat terhadap kehidupan manusia.
Sepi ing pamrih adalah kesediaan untuk tidak menomorsatukan diri sendiri, rame ing gawe adalah kesediaan untuk melakukan apa saja yang menjadi kewajiban tanpa menentukan apa yang menjadi kewajiban itu. Ciri kedua dari dua keutamaan formal itu adalah bahwa intinya terdapat pada kesediaan untuk membatasi serta menyesuaikan diri dengan harapan-harapan masyarakat. Orang yang sepi ing pamrih tidak lagi mempertahankan haknya untuk mengusahakan tujuan-tujuan dan kepentingan-kepentingannya sendiri, baik yang bersifat bukan moral maupun yang bersifat moral. Orang yang rame ing gawe bersedia untuk memenuhi apa saja yang menunjukkan diri sebagai kewajiban pangkat dan kedudukannya. Dua-duanya menuntut agar bukan kehendak seseorang yang menjadi penentu sikapnya, melainkan harapan masyarakat.
Dalam etika Jawa dapat ditemukan dua keutamaannya yang justru berfungsi untuk mengimbangi sikap seperti sepi ing pamrih dan rame ing gawe, yaitu tuntutan untuk mengambil sikap moral sendiri dan keberanian moral. Yang pertama menuntut agar orang jangan pernah menelan begitu saja apa yang oleh pihak luar lingkungan sosial, adat istiadat, negara, ideologi dikemukakan sebagai kewajiban moral; Yang kedua, menuntut agar orang bersedia untuk mempertahankan sikap yang sudah sadari sebagai kewajiban dan apabila dicela oleh pihak lain.
Pamrih merupakan bahaya kedua yang harus diperhatikan orang. Bertindak karena pamrih berarti hanya mengusahakan kepentingan sendiri individualnya saja dengan tidak menghiraukan kepentingan-kepentingan masyarakat. Secara sosial pamrih itu selalu mengacau karena merupakan tindakan tanpa perhatian terhadap keselarasan sosial. Pamrih sekaligus memperlemah manusia dari dalam, karena siapa yang mengejar pamrihnya memutlakkan keakuannya sendiri. Dengan demikian ia mengisolasikan dirinya sendiri dan memotong diri dari sumber kekuatan batin yang tidak terletak dalam individualitasnya yang terelosasi, melainkan dalam dasar numinus yang mempersatukan semua kekakuan pada dasar jiwa mereka. Ia mencari kepentingan-kepentingan dalam dunia dan dengan demikian mengikat diri pada alam luar sehingga ia kehilangan kesanggupan untuk memusatkan kekuatan batin dalam dirinya sendiri. Pamrih terutama kelihatan dalam tiga nafsu, yaitu selalu mau menjadi orang pertama atau nepsu menange dhewe, menganggap diri selalu betul atau nepsu benere dhewe dan hanya memperhatikan kebutuhannya sendiri atau nepsu butuhe dhewe. Sikap-sikap lain yang tercela adalah kebiasaan untuk menarik keuntungan sendiri dari setiap situasi tanpa memperhatikan masyarakat atau aji mumpung.
                              2.             WAYANG SEBAGAI SARANA MENUMBUHKAN MINAT DAN BAKAT ANAK
Kata tumbuh bermula dari sesuatu yang telah ada dan menjadi milik kita. Sesuatu yang menjadi milik manusia tersebut berupa harta kultural yang telah dimiliki oleh manusia tersebut sejak lahir. Harta tersebut diperoleh dari pendidikan dalam keluarga, lingkungan dan masyarakat. Minat adalah keadaan seseorang terhadap suatu hal. Dalam hal ini minat anak kepada sesuatu, sementara apakah anak tersebut berbakat atau mempunyai talenta tertentu terhadap sesuatu. Sesuatu yang dimaksudkan adalah harta kultural tersebut. Apabila bakat dan minat tersebut digabungkan kemudian dibantu dengan dorongan dari orang tua maka ia akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan kehidupan si anak tersebut. Hal itu akan menjadikan anak tersebut mempunyai kemampuan tambahan atau kemampuan khusus di bidang selain pendidikan formalnya.
Sementara itu potensi wayang tersebut kemudian diberdayakan untuk menumbuhkan minta dan bakat dengan berbagai cara.
1.      Mendekatkan wayang sebagai lingkungan belajarnya. Lingkungan belajar yang dimaksud adalah adalah lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Upaya pendekatan pada lingkungan belajar anak berarti upaya mendekatkan pada budayanya, artinya anak dikembalikan pengolahannya atau pendidikannya pada konteks budayanya. Pada pendidikan keluarga, orang tua memegang peranan yang besar. Oleh karena itu biasanya orang tua yang senang kepada wayang, dengan menyediakan dan sering mendengarkan siaran radio atau kaset wayang, melihat pertunjukan wayang baik pertunjukan langsung maupun pertunjukan melalui audio visual. Orang tua memajang aneka media bisa berupa gambar tokoh-tokoh wayang, pethilan suatu peristiwa dalam pertunjukan wayang, serta menyediakan aneka buku bacaan cerita wayang.
2.       Melalui pembiasaan budaya juga bisa dilakukan dengan melalui pembiasaan yang diungkapkan melalui ungkapan-ungkapan bahasa, dan sitiran dari ajaran cerita pewayangan yang terungkapkan melalui ungkapan-ungkapan bahasa, dan sitiran dari ajaran cerita pewayangan yang terungkapkan melalui dialog-dialog pembicaraan sehari-hari. Pembiasaan budaya akan lebih baik bila disertai dengan pembiasaan berbahasa Jawa dalam keluarga, terutama pada keluarga yang berbahasa ibu bahasa Jawa.
3.      Dapat dilakukan dengan cara memprioritaskan wayang sebagai hiburan dalam keluarga.
4.      Dapat dilakukan dengan cara mengajarkan secara khusus baik melalui pendidikan formal yang tertuang dalam kurikulum pendidikan formal tingkat dasar maupun menegah, atau pada pendidikan non formal seperti kursus dan sanggar. Pada pendidikan formal mengacu makalah dari Suminto A Sayuti (2005), menggali dan menanamkan kembali wayang sebagai budaya lokal lewat pendidikan dapat dikatakan sebagai gerakan kembali pada basis nilai budaya daerahnya sendiri sebagai bagian upaya membangun identitas bangsa, dan semacam filter dalam menyeleksi pengaruh budaya luar. Pendidikan non formal yang dimaksud seperti misalnya mengikutkan anak kursus nembang, karawitan, pedalangan, dst.


Kamis, 18 Desember 2014

Api Abadi Mrapen

Api Abadi Mrapen
Dening : R. Tantiningsih

Latu kuwi, tansah murub
Ora nggubris kiwa tengene
Nadyan digrujug tirta
Nadyan maruta padha teka
Nanging latu kuwi ora surut

Latu kuwi, tansah murub
Kaya latu kang ana jero ati
Angel dipateni lan angel diadhemake

Latu kuwi, tansah murub
Ing mrapen dununge
Ninggal sejarah

Kanggo anak putu

Panjenengan Ingkang Kula Padosi

Panjenengan Ingkang Kula Padosi

Minarni sewengi ora bisa turu, ngrasakake larane ing sakojur badane sing rinasa mundhak saya abot. Wis rong Minggu dheweke ngaleleh ing dhipan jroning gudhang, dhewekan. Mangan lang ngombene disangga juragane. Lagi wae mak ler…., bisa ngeremake mripate, mak jeglek lawang dibukak ngeget saka njaba. Bu Candolo mlebu. Tanpa ana rasa welas dheweke takon.
?Minar ! Sida kapan kowe ninggalake papan iki ? Kene iki dudu rumah sakit, dudu losmen gratis ! Wis telung sasi kowe ana kene ora bisa nampa tamu, njur rong minggu kowe mung mangan ana gudhang iki. Aku, Nar, aku sing ora bisa …., rugi !? Kandhane Bu Candolo karo malang kerik.
?Kula taksih sakit, Bu. Kangge mlampah kemawon taksih dereng kiyat. Kula semados sedinten kalih dinten malih, menawi sakit kula sampun radi entheng.? Wangsulane Minarni karo ngiyes-ngiyes nahan larane.
?Ning tenan lho ya kandhamu, sacepete kowe kudu enggal lunga saka omah iki.? Jenggleng …., Bu Candolo metu karo mbanting lawang.
Sapungkure Bu Candolo, Minarni bisane mung nangis. Kejaba nangis merga larane kumat, uga atine kelara-lara. Nangisi uripe sing cengkah karo gegambaran dhek semana.
?Dhuh Gusti, kawula nyuwun pangapunten. Kawula titah dosa, gesang kawula kebak ing kadurakan. Kawula nyuwun kiyat, nyuwun mantun saking sesakit kawula. Gusti, menawi sampun mantun, kawula sagah ndadosi gesang kawula malih. Gusti……, nyuwun kawelasan.? Minarni eling sembahyang, eling marang Gustine sing wis lawas ditinggalake.
Dina esuke, sawise diwenehi sarapan, kanthi sempoyongan Minar nata sandhangane, mas-masan lan dhuwit dilebokake ing tase. Atine wis manteb yen esuk iki dheweke bakal lunga. Risi karo Bu Candolo sing wis bola-bali anggone nundhung. Niyate arep neng Rumah Sakit dhisik sowan dr. Budi, dokter lengganane, saperlu nyuwun obat, bubar kuwi lagi mikir sapa-sapa mengko sing bakal dijujug. Bapak emboke wis ora ana, kari Lik Ijah, adhine bapake, wong ora nduwe, anake kemriyek isih cilik-cilik. Karo ngenteni tekane Bu Candolo saperlu pamit, Minar bali lumah-lumah ing peturon karo nata ati. Leng……, pikirane dadi ngambra-ngambra kelingan kabeh lelakon sing wis kawuri.
Sanadyan mung anake wong dhanyang buruh kasar, Minar sekolahe rampung SMU kanthi entuk ijazah. Wong tuwa kekarone klebu wong temen lan jujur tur enthengan. Tawakal manembah Gusti, pendhak Minggu neng Greja bebarengan. Mula ora mokal yen ditresnani tangga teparo. Lagi wae rampung sekolahe, Minar sing lagi mekar ngancik dhiwasa iku, ditinggal ngajal bapak emboke merga kena alangan, kesrempet bis nalika boncengan pit arep nyumbang sanak seje desa sing duwe gawe mantu. Kekarone ngajal sanalika iku uga.
Dhasar anak wadon ontang-anting, Minar sing wis lola iku nyambung uripe kanthi kabisan sing diwarisake embokne. Yen dikongkon tangga, pagaweyan apa wae ditandangi, sinambi ora kendhat gawe lamaran pegaweyan, e …. bokmenawa mengko ana panggilan. Jer kabeh mau mujudake pambudi daya kanggo nggayuh kamulyaning urip.
Wayah esuk meneri Minar menyang pasar, ketemu kanca lawas sing dhek cilik ubyang-ubyung bareng dolan. Mitri jenenge. Kakak kelase dhek ana SMU. Bareng lulus Mitri njur lunga menyang kutha, kabare payu nyambut gawe. Nalika ketemu, bocah loro kejaba salam-salaman ngadhakake keslametane, uga gablog-gablogan nandhakake olehe padha dene kangen, nganti lali yen ana dalan.
?Minar, piye kabarmu saiki ? wah ora ketemu sepira suwene wae, saiki kowe wis ketok dewasa lan tambah ayu,? kandha ngono Mitri isih karo nyekeli tangane Minar kenceng.
?Ya mung kaya ngene iki, Tri, saiki aku malah wis lola mangka aku durung cekel gawe sing gumathok,? wangsulane Minar karo tumungkul sedhih, kelingan wong tuwane sing wis padha ora ana.
?Kowe mono begja, Tri, nyatane saka panyawangku, saiki bareng wis nyambut gawe uripmu penak. Sandhanganmu becik lan penganggonmu mompyor.?
?Ah, ya mung biasa kok, Nar, nek saka rumangsaku ora ana bedane ya mung sithik, karang ya jeneng wis nyambut gawe gek cak-cakanku ngati-ati pisan. Dadi ya cumanthel kaya sing bok sumurupi iki.?
Bebarengan mlaku tumuju pasar, Mitri tansah nyritakake oleh-olehane nyambut gawe ana kutha, dene Minar tansah njinggleng anggone ngrungokake rumangsa ketarik banget.
?Nar, gelem pa kowe melu aku ? Mengko kowe daksuwunake gaweyan karo juraganku. Gaweyan entheng, ning dhuwite lumayan.? Kandhane Mitri karo nyawang polatane Minar. Dhasar prasasat wong kepetengan ditawani obor, mula gage olehe wangsulan.
?Tenane Tri, teneh aku seneng banget yen kowe bisa nggolekake pegaweyan kanggo aku. Wis ta gaweyan apa wae janji aku bisa, aku saguh.?
?Kandhaku iki tenan Nar, dak kira kowe bisa, mergane mengko rak ya nganggo dilatih barang. Ning ya kuwi Nar, nyambut gaweku kuwi kaya dene kontrak. Nek seneng lan krasan bisa terus, ning nek ora sajroning telung sasi lagi entuk metu. Dadi wektu telung sasi kuwi kowe bisa ngrasak-ngrasakake sumbut ora gaweyan lan pituwasmu,? Mitri nerangke.
Tanpa nganggo mikir dawa, Minar gage saguh, sajak ora sabar maneh.
?Wis, Tri, pokoke kapan kowe bali neng kutha, aku melu. Aku pengin ndhang nyambut gawe ben bisa kaya kowe,? kandhane Minar mantep.
?Minggu suk emben aku wis kudu bali kok, Nar, mula sadurunge pikiren sing tenan, dene nek iya kowe siap-siap, suk budhal bareng aku.? Rembug wis dadi, pas tekan pasar kekarone sowang-sowangan blanja kebutuhane dhewe-dhewe.
Dina Minggu esuk, bocah loro wis padha ana dalan gedhe ngadhang bis. Sajroning ngadhang bis, Mitri ngandhan-ngandhani Minar.
?Nar, senajan randha ning juraganku kuwi sugih banget mangka ora duwe anak. Omahe gedhong magrong-magrong cacahe telu. Sing ngarep dhewe kanggo losmen, dijenengi Losmen Arum Ratri. Mburine kanggo pondhokan wong-wong sing padha nyambut gawe ana kono, klebu bocah-bocah anyar sing kudu dilatih kaya kowe barang kuwi. Dene gedhong sing ana iringan, kuwi sing dienggoni juraganku karo rewang-rewange. Ya saka kono iku juragane bisa ngawasi losmen lan buruh-buruhe, liwat wong-wong sing dipercaya.? Mitri mandheg, nyawang raine Minar sing ketok nggatekake.
?Wah, durung-durung aku kok wis ana rasa wedi dhisik ya Tri, gek mengko aku ora ketampa. Aku rak mung cah ndesa, tur durung pengalaman.? Pengresahe Minar lirih lan lugu.
?Wis ta, aja samar. Cekake yen karo aku mesthi ditampa. Aku rak wis kandha, yen kabeh bocah anyar kuwi mengko dilatih dhisik. Mula welingku, kowe kudu tansah manut prentah lan aturan sing wis ana. Ora kena mbantah, lan kowe ora bebas sakarepmu dhewe. Kejaba yen kowe mengko wis tatrap nyambut gawe, lan entuk palilah saka juragane.?
?Mengko yen aku wis wiwit nyambut gawe, bisa amor karo kowe ora, Tri ?? Minar nanjih kepingin luwih ngerti.
?Ora Nar, tugasku rak ana njaba. Dakkira, yen kowe wangun ana losmen, ngacarani tamu sing arep padha nginep.?
?Mesthine rak ya isih ana sing bodho kaya aku ya, Tri ?? Pitakone Minar sing polos mung diwangsuli esem dening Mitri.
Bis sing padha diadhang liwat, bocah loro banjur padha munggah.
Tekan kutha, Minar dipasrahake Bu Candolo, ngono yen padha ngundang juragane dening Mitri. Sabanjure Minar pancen dipapanake ing pondhokan. Neng kono ana bocah anyar wolu, racake padha yen karo Minar. Sajroning rong dina, Minar sakancane sasat mung mangan turu, kanggo ngaso, jarene.
Nyandhak dina sing katelu, Minar sakanca diwenehi sandhangan anyar patang setel. Kabeh dikon njajal nggolek pase awake dhewe-dhewe. Emane, Minar ora ana sing seneng. Yen bahane pancen becik, ning potongane ? Sasat kabeh jigrang sadhuwur dhengkul, gek belahan dhadhane ? Oh …. lagi njajal wae wis risi. Ning priye, neng kono kudu manut sakabehe, ora kena mbadal prentah.
Dina candhake, isih esuk teka ing pondhokan sawijijing ibu sing menor pacakane, Bu Wingit undang-undangane. Ya dheweke iku jare sing arep nglatih. Sepisanan, bocah-bocah iku dikenalake karo alat-alat kosmetik, sabanjure ngresiki rai, molesake wedhak, celak, lipstik, lan sapanunggalane. Bubar iku njur ngadibusana. Jroning batin Minar gumun, kok mung bab dandan sing diwulangake, njur kapan olehe arep nglatih nyambut gawe ? Kanthi diwanek-wanekane, Minar takon marang Bu Wingit.
?Tugas kula benjing punika punapa nggih Bu, kula sarencang kok dipun latih ngadi sarira lan ngadi busana ??
?Neng losmen. Sing cetha kowe kabeh duwe tugas ngacarani tamu, kareben losmen laris. Mula kowe kudu latihan sing tenan, luwih-luwih kudu grapyak lan semanak, sugih guyu, lan gawe krasan sing padha nginep. Wis saiki rasah kakehan pitakonan, suk bakal ana dhewe wong sing nglatih.?
Ganep rong minggu Minar wis baut dandan. Jebulane dheweke moblong lan ayu dhewe tinimbang kanca-kancane. Bok menawa wis rinasa cukup anggone nglatih, esuk iki Bu Wingit wis ora teka, ning ganti ana tukang foto sing banjur njupuki gambare bocah-bocah iku siji-siji. Bubar iku tukang foto uga banjur lunga.
Ing wayah esuk Bu Wingit teka ngedumke foto sing dhek emben wis dadi. Kabeh gumun ndeleng gambare dhewe, sing luwih endah luwih apik karo sing nyatane. Jebul ora baen-baen dayane awak sing wis didandani. Sawise kabeh tutug lan marem nyawang fotone, Bu Wingit kandha :
?Wiwit mengko sore, kowe kabeh wiwit tugas ana losmen. Wis ana wong sing kajibah ngeterke kowe mrana. Ana losmen, golekana kamarmu dhewe-dhewe. Ing ndhuwur lawang kamar, wis dipasang foto-fotomu padha sing karo kok gawa. Dene sing bakal nglatih kowe nyambut gawe, mengko bakal teka, cukup kok tunggu ana kamar. Kowe kabeh mengko bakal ngerti apa tugasmu.? Tanpa ngenteni bokmenawa ana sing takon, Bu Wingit terus bablas metu ninggalake pondhokan.
Wis watara sajam Minar ana kamar losmen. Sinambi ngenteni wong sing dijanjekake arep nglatih nyambut gawe, Minar maca majalah anyar sing wis sumadiya ana kono. Durung rampung sajudul, kepurungu lawang kamar dithotok saka njaba. Gage Minar marani lawang sing ora dikancing. Nalika lawang dibukak, neng ngarep lawang wis ngadeg wong lanang setengah umur. Kanthi polatan sumeh, wong mau ndhisiki takon.
?Bener mbak, kowe Minar ? Bocah anyar sing lagi wae teka ??
?Inggih leres Pak, kula Minar. Lare enggalan. Punapa Bapak ingkang badhe nglatih kula nyambut damel wonten ngriki ?? Pitakone Minar alus.
?Bener Minar, aku sing bakal ngajari kowe. Ditepungake, aku Pak Dremba.? Maju selangkah karo ngulungake tangane, wong mau wis ana njero kamar. Tangan tinampan dening Minar. Cepet mbalik, lawang sing diungkurane ditutup jeglek banjur dikancing, kuncine disak. Minar mundur cepet mepet dhipan, aloke :
?Lho, Pak ! ….., panjenengan kok malah mlebet ? Kori kok dipun kancing ??
?Iya Minar, wengi iki kowe bakal dak ajari nyambut gawe. Nyambut gawe sing enak lan kepenak. Ngrasakake swarganing urip, necep kanikmating kadonyan. Kowe rak durung tau ngrasakake, ta ?? Kanthi guyu ngemu teges, wong iku nyedhaki Minar nyambi nyiwel pipi. Minar kaget kaworan wedi. Mundur saya mojok kamar, atine dheg-dhegan.
?Pak …., kula wonten ngriki badhe nyambut damel. Kula sanes lare nakal. Kula boten purun yen dipun camah. Mangga kori dipun bikak, kula punapa panjenengan ingkang medal ?? Pakone Minar kanthi swara groyok.
?Minar, ana kene tugasmu pancen ngladeni tamu, kaya dene aku. Bengi iki kowe wis dadi panguwasaku. Aku duwe hak tumindak apa wae marang kowe sakarepku.? Wong mau nyedhak arep ngrangkul pundhak, tangan enggal disampluk kanthi praupan mencereng kawetu tembunge kasar.
?He, wong lanang hidung belang, gelem bukak lawang lan metu saka kene ora? Yen ora, aku bakal njerit njaluk tulung !? Minar ngancam.
?Ha …. ha …. ha … !? Wong lanang iku ngguyu nggleges. ?Minar ngertia !, yen bengi iki kowe wis daktuku larang, merga jarene Bu Candolo, kowe isih prawan asli sing polos lan lugu. Mangka, ya kuwi sing tansah dak goleki. Nek kowe wangkot lan jaremu arep njerit, cobanen. Mangsa ana wong sing bakal tetulung, awit sing jaga kene kabeh wis padha ngerti. Mung kowe Minar sing durung mudheng, yen sejatine kowe wis klebu ing loropan dadi panguwasane germa sing ndagangake awakmu marang wong sing padha ngumbar nafsu.?
Krungu kandhane wong lanang Dremba, prol ……. kringet adhem metu byuk-byukan saka sarandhuning awake. Awak gemeter, sikil ngewel, pandeleng pet-petan. Krasa yen wis ora bisa oncat saka bebaya, awak kumleyang tanpa daya. Nalikane arep tiba, Minar krasa tinampan tangan prakosa, sabanjure Minar wis ora eling apa-apa maneh.
?Mbak Minar ! Tangi … ! wis awan ! Gek ndang bali neng pondhokan, kamar arep diresiki !? Panggugahe sing jaga losmen karo ndhodhogi lawang kamar.
Minar nglilir, awak krasa lara kabeh. Sandhangan sing dienggo wis bosah-baseh uwal saka awake. Kelingan kabeh kedadeyan dhek bengine, Minar angles, atine nangis kelara-lara. Gandheng selak didhodhogi saka njaba, cekat-ceket Minar nganggo sandhangane. Nalika metu lawang, karo ngguyu sing jaga losmen menehake amplop langsung digegemake ing tangane Minar, karo kandhane :
?Iki mbak, saka tamumu mau bengi.?
Kanthi amplop ing gegemane, Minar bali neng pondhokan, atine rontang-ranting. Neng pndhokan, sawise padha ngerti tugas apa sing kudu ditindakake, werna-werna polatane Minar sakancane. Ana sing ketok sedhih, suntrut, biasa, ning uga ana sing malah katon bungah lan ngguya-ngguyu.
Bocah-bocan krasa lan ngerti yen kapusan. Janji-janji arep diwenehi gaweyan dening wong-wong kang disebar Bu Candolo. Dheweke sing pasang tarip dhuwur, bocah-bocah cukup clepretane. Kanggone bocah ndesa, sing penguripane buruh-buruh tur kurang entuk panggula wenthah kautaman, ya njur seneng ngono wae. Nyambut gawe entheng, entuk dhuwit lumayan. Ning kanggone Minar, wiwitan rumangasa abot. Gandheng yen arep metu kudu yen wis telung sasi, lan merga pengaruh saka kanca-kancane, suwe-suwe Minar dadi biasa ngadhepi tamu. Apa maneh dheweke rumangsa dadi kembange losmen. Minar sing ayu, sasat dadi kembang lambe lan kekidungane para priya hidung belang, sandhung jekluk Minar sing ayu kuning. Tamu langganane tanpa etungan, kabeh njaluk diladeni Minar.
Ganep patang taun Minar dadi penghuni Losmen Arum Ratri. Kabeh kesenengan rumangsa tutug. Dhuwit, emas hiasan, sandhangan, meh saben dina tuku, paweweh saka bos-bos sugih sing padha gandrung.
Jeneng urip mono owah gingsir. Wis ana sesasi Minar kerep lara weteng, luwih-luwih janji bubar nampa tamu. Mula saiki kerep nolak , ndadekake Bu Candolo kerep nesu. Wis priksa dhokter ngolah-ngalih ning padha wae, janji obate entek, mesthi kumat. Keri dhewe neng dr. Budi, ahli penyakit dalam. Minar rada kisinan merga didangu dhokter ngene :
?Panjenengan nglampahi nakal, mbak ?? Pandangune alus neng nandhes.
?Inggih, Dhokter.? Wangsulane Minar lirih semu mlengos.
?Sampun dangu ?? Dokter nanjih.
?Sampun …. wetawis kawan taun, dhokter.? Minar mangsuli jujur.
Karo nerusake mriksa, dhokter dhawuh.? Saenipun kendel mbak, panjenengan sampun kenging penyakit ingkang mutawatosi, siphilis utawi rajasinga.?
?Siphilis, Dhokter ? Oh …..?
Sakala Minar nangis, atine kebak rasa wedi, was, lan sumelang sing mbangeti. Merga mens sing terus-terusan, wusanane dening Bu Candolo Minar dikon ngalih turune. Sing maune neng kamar pondhokan, saiki dikon ngalih neng gudhang, awor karo barang-barang sing ora kanggo. Merga wis ora bisa ngolehake dhuwit, bola-bali Bu Candolo ngakon Minar supaya bali ndesa, kanthi kasar, tanpa duwe rasa welas sithik-sithika.
Jeglek, lawang dibukak kasar, njalari lamune Minar dadi ambyar. Bu Candolo nggejejer neng tengah lawang, kanthi panyawang sinis. Kandhane :
?Minar, nek arep bali apa duwekmu kabeh gawanen, aja nganti ana sing keri!?bubar kandha ngono terus klepat, ninggal lunga kanthi lawang gudhang isih menga moblah-moblah.
Awak lara ketambahan ati sing ajur mumur, Minar ninggalake gudhang cukup pamit sing jaga. Kanthi laku sempoyongan tumuju dalan gedhe, Minar nyegat bis saanane, tekade angger bisa adoh saka kono. Bab mengko embuh dipikir keri. Wayah Asar, bis mandheg cedhak pasar ngundhunake pemumpang, Minar katut mudhun. Ndadak wetenge krasa kumat larane, mangka obat wis entek kawit dhek wingi. Tanpa mikir dawa, Minar mlebu pasar sing wonge wis mamring. Weruh amben dhasaran kosong, gage ndudut jarik saka tas, gloso …., tas isi sandhangan kanggo bantalan. Minar turon, larane krasa suda. Kegawa awak sayah, kena sumribiting angin sumilir, Minar keturon. Nglilir-nglilir bareng wis surup, gregah tangi lingak-linguk kahanan sepi nyeyet. Tas isi dhuwit lan mas-masan sing mau dikekeb wis ora ana. Ngisor amben dhasaran, tong sampah ing sisihe, ngisor uwuh dirogoh dibiyaki pranyata ora ana. Ati bingung kuwur, awak lemes. Bareng tita ora ketemu, Minar ngambruk ing amben, sambate ngaruwara. Dhuwit, mas-masan lan sandhangan kabeh ilang bareng sak tase. Saiki wis babar pisan ora duwe apa-apa, kejaba sandhangan sing tumempel ing awak lan jarik siji. Tangise nganti megap-megap, luhe prasasat wis asat, nggetuni kabeh lelakone. Kanthi lambe kedher Minar sambat-sambat eling marang Gustine.
?Dhuh Gusti, kawula tiyang dosa nyuwun pangapunten. Kawula nyuwun kekiyatan.? Ngono iku terus tansah dibolan baleni.
Ya wiwit wengi iku Minar kepeksa turu neng pasar iku. Yen wayah awan kanggo nyambung uripe, dheweke njejaluk lan nampani sihe wong sing padha welas. Apesing awak, wetenge Minar larane kumat, ngluwihi sing uwis-uwis. Pangrasane kaya wulanan, ning wetune getih sendhet tur kenthel gek ambune …., ya ampun….., Minar dhewe gumun, geneya ora kaya sabene. Sandhangan ora tau salin, jarik sing kanggo ubet-ubet wis ora rupa maneh. Yen Minar liwat, wong-wong mesthi mithes irung. Mula janji Minar nyedhak, racake padha nyingkang-nyingkang ngakon lunga, wegah karo gandane. Panandhange Minar saya tambah abot. Gandheng ana pasar tansah entuk panyia-nyia, Minar metu saka pasar, tekade arep ngemis wae turut omah, mesthine rak ya ana wong welas.
Awan iku panase sumelet, wiwit esuk durung ana wong sing aweh pangan, ewadene Minar isih duwe pengarep-arep mesthine mung durung. Bok menawa mengko ya ana wong welas sing gelem aweh pangan. Omah sauruting dalan sing didhodhoki, sawise meruhi kahanane Minar sing mambu lan njijiki, akehe mung banjur nguncali dhuwit receh terus nutup lawang. Rasa susah, lara, ngelih campur dadi siji. Saka lemese, Minar ndheprok neng pinggir dalan. Mripate bali teles dening luh, luh gegetun, tangis keduwung sing tulus saka jroning ati. Ngelingi rasane awak wis kaya ora kuwat, Minar ngeremake mripate mbaleni sembahyang, pasrah sawutuhe konjuk Gusti mungguhing uripe. Rampung sembahyang, nalika ngelekake mripati, Minar weruh ana jaka tanggung ing iring Greja. Dheweke mesthekake menawa iku koster. Karo krengkangan Minar ngadeg, kanthi laku sing sempoyongan dheweke marani prenahing regol greja. Tekan lawang regol bali sedhoprok maneh. Tangane grayahan nemu watu cilik banjur dijupuk kanggo nuthuki wesi lawanging regol. Sing lagi nyapu krungu banjur marani karo takon saka njero.
?Ngapa nuthuki lawang ??
?Tulung, Mas ! Aturna aku arep sowan Rama,? kandhane Minar memelas.
Koster anyar sing isih katekumen iku nyedhak arep ngengakake regol, ning bareng mak sentuk ….., ana ganda nyogok irung tur weruh sesawangan sing banget njijiki mau kandhek, ora sida bukak regol ning malah rada mundur. Karo kandha :
?Rama tindakan, kondure suk emben.? Bubar iku terus nggeblas lunga. Oh…., genea koster iku tanpa nduwe welas karo aku. Mangka sowanku mono mung arep ngaku dosa, kareben entheng sesangganing atiku. Ngono batine Minar. Tangise bali ambrol, sambate kajaba Gusti …. Gusti …. wis ora ana maneh. Kanthi sisa-sisaning kekuwatane, Minar nerusake laku, sedheka leren mandheg ngampet larane. Saka esuk tekan surup wetenge ora klebon pangan, gek gulune krasa salit garing. Pas tekan ndhuwur kreteg Ndanen, Minar nglumruk tanpa daya entek kekuwatane.
Wengi iku meneri rembulan ndhadhari. Ning gandheng kesaput mendhung mula pandhange dadi remeng-remeng. Nyawang bening lan kumriciking banyu kali, ngelake Minar saya mbangeti. Ning kepriye ? Dalan sing tumuju kali parenge dhuwur, mangka awake wis ora kuwat ngglawat. Bisane mung sambat, ?Dhuh Gusti….., kawula nyuwun kawelasan.?
Wengine sangsaya sepi. Saka sunaring rembulan, ing adoh sisih ngisor kana Minar weruh pawongan. Dene pawongan mau uga nyawang prenahe Minar. Tangane Minar ngawe pinangka aweh pratandha supaya wong mau nyedhak. Tekan ngisor kreteg pawongan mau mandheg. Minar nganggo isarat tangane nelakake yen dheweke njaluk banyu. Sing neng ngisor tanggap, gage methik godhong lumbu, dianggo madhahi banyu banjur digawa munggah.
Tekan ndhuwur, tanpa ditembung, pawonan mau ngethukake banyu ing godhong lumbu sing ana tangane ing tutuke Minar. Minar olehe ngombe katon dhokoh. Wedi yen diuwali, tangane wong mau dicekeli kenceng. Nganti krasa marem olehe ngombe, awak krasa seger sumyah bali kekuwatane. Kaya-kaya wis ora ngrasakake blas lelarane. Mbarengi Minar ngadeg arep ngaturake panuwun, pawongan mau mbuang godhong lumbu sing mau kanggo nggawa banyu. Tatrap …., Minar kaget. Jebul epek-epek tangan lelorone wong sing aweh banyu mau gudras getih, tatu ing tengah-tengahe. Minar nyoba namatake raine. Pawongan mau mesem, ning ora beda raine uga glubrat getih, mili saka bathuk lan sirahe sing ketanceban ri kaentha makutha.
Oh … oh ….., batine Minar isih kebak tandha pitakon ing atine. Bareng cetha panyawange, wong iku ngliga tanpa sandhangan, mung begeyan winadi sing kesasaban ubel-ubel. Minar nglirik iga sakupenge. Mripate natab lempeng sing tatu kaya tilas kejojoh barang landhep, sing tatu mau isih katon ngetokake getih lan banyu. Gage mlorot panyawange Minar mudhum namatake sikile wong kang aweh banyu mau. Sikil kekarone tatu ? batine Minar. Bali munggah panyawange, wusana tempuk wong mau uga nyawang Minar kebak asih. Sakala mripat lan atine Minar tinarbuka. Tanpa mangu-mangu Minar gage ndheprok. Sikil sing tatu tembus dlamakan iku dirakut kenceng, diarasi sak katoge.
?Dhuh Gusti Sri Yesus ….., Panjenengan kula padosi. Gusti kawula nyuwun pangapunten, sapunika kawula ndherek.? Bola-bali mung iku sing kawetu jroning tangise. Rumangsane Minar, Gusti ndhungkluk nglawani Minar ngadeg, wusana ginandheng, tinuntun tumuju dalan alus. Saka kadohan wis katon, yen sing tinuju papan sing endah lan nengsemake.
Esuke kabar sumebar, yen ing ngisor kreteg kali Ndanen tinemu jisime wong wadon, sing sajake kacilakan tiba saka ndhuwur. Sirahe kurban sumedhene ing gampeng kali, dene awake kekum ing banyu sing iline mung gumlintir. Wong-wong ora ana sing padha ngerti kuwi jisime sapa, lan wong ngendi, awit pancen ora ana bukti-bukti sing bisa nuduhake.
Tamat
Mangga Mas Kardi, kula aturi nggarap piyambak. Ingkang sampun saged dados tigang babak wonten ing Purna Budaya . Nuwun

Sumber :

Asal-Usul

Asal-Usul Desa Pangulu, Gowa Sentono

            Ing jaman semono ana padepokan cilik jenenge Sentono sing dipimpin kaliyan Blacak Ngilo. Blacak Ngilo iku bekas prajurit Majapahit sing lunga nalika ana perang saudara. Awale padhepokan iki kondhang mula akeh wong teka ing sentono kanggo maguru ning Blacak Ngilo. Kanthi arif lan wicaksana Blacak Ngilo ngajarake macem ilmu kayata budi pekerti lan kanuragan.
            Daerah Sentono ana ing pinggir Bengawan Solo. Mula strategis kanggo peertanian. Desa Sentono ngrembaka mula Blacak Ngilo dianggep kaya panguwasa utawa raja. Nanging suwe-suwe Blacak Ngilo sakarepe dhewe (sawenang-wenang). Masyarakat diwajibke nyetor hasil panene separo luwih. Ora mung iku, rakyate sing duwe anak perawan kudu diserahke kanggo dadi selire. Rakyate khawatir apa maneh saben wulan purnama kudu nyediake getih manungsa kanggo tumbal dienggo kasekten.
            Rasa khawatire rakyat krungu nganti ning Sunan Bonang. Sawise iku sunan Bonang ngutus muride nemoni Blacak ngilo kanggo ngilengke supaya ora sawenag-wenag marang rakyate. Aja nyembah berhala lan nindake syariat Islam. Krungu pocapan kaya mangkono utusane Sunan Bonang, Blacak Ngilo murka. Dipenggal gulune utusane Sunan Bonang nganti tugel. Panggonan sing dienggo menggal gulune mau saiki diarani Pangulu saka tembung “Penggal Gulu”.
            Ngrasa diremehke, Blacak Ngilo ora trima. Blacak Ngilo nantang Sunan Bonang kanggo adu tandhing. Sunan Bonang sarujuk nanging kanthi syarat yen Sunan Bonang kalah, Sunan Bonang lila dadi pengikute Blacak Ngilo. Ananging yen Blacak Ngilo kalah, dheweke kudu ninggalake tumindak ala lan mlebu Islam. Loro karone sarujuk.
            Perang tandhing diwiwiti. Loro karone padha sektine. Dina kapisan, kapindho nganti kaping enenm durung katon sapa sing kalah lan sapa sing bakal menang. Dina kepitu Blacak Ngilo wis kesel nagnging amarga kesombingane Blacak Ngilo ora gelem ngakoni kasektene Sunan Bonang. Blacak Ngilo saka pertarungan kanthi ambles ning jero lemah. Sunan Bonang ora gelem kalah. Sunan Bonang uga mlebu jero lemah kanggo ngoyak Blacak Ngilo nganti tekan daerah Tuban.
            Amarga keselen Blacak Ngilo jaluk marang Sunan Bonang kanggo leren. Sunan Bonang sarujuk. Blacak Ngilo langsung nggoleki panggonan sing dienggo sendhen kaliyan Blacak Ngilo lan saiki diarani desa Menden. Saka tembung “Semende” utawa “Senden”. Akhire Blacak Ngilo ngaku salah lan gelem mlebu Islam dadi pengikute Sunan Bonang kanggo nyebarke ajaran Islam ing wilayah Menden.
Bolongan-bolongan ing lemah bekas oyak-oyak Sunan Bonang karo Blacak Ngilo dadi Gowa. Gowa iki diarani Gowa Sentono. 

Selasa, 02 Desember 2014

Ajaran Samin



Wong Samin Penganut Agama Nabi Adam yang Anti-poligami

Blora, kota kecil yang menyimpan sejarah Samin, ‘mungkin’ sering jadi bahan cemoohan. Desa Klopo Duwur yang terletak di Kecamatan Banjarejo, Blora, Jawa Tengah tempat masyarakat Samin tinggal.
Dalam sebuah kesempatan beberapa pekan yang lalu, penulis singgah pada komunitas ini, komunitas samin yang enggan di bilang wong Samin mereka lebih suka disebut “Sedulur Sikep”. Dulu, komunitas wong samin ini sangat tertutup. Tapi, seiring dengan arus modernitas mereka mulai terbuka terhadap informasi-informasi yang masuk, TV, radio, tape menghiasi rumah mereka.
Masyarakat Samin berkembang dan tumbuh di Klopo Duwur adalah salah satu bentuk perlawanan sikap terhadap pemerintah Belanda. Bahkan, masyarakat Samin ini enggan membayar pajak pada waktu itu. Dahulu memang Saminisme sangat tertutup dalam hidupnya. Mereka tidak mudah percaya kepada orang lain yang dianggap asing. Mereka lebih percaya pada diri sendiri. bentuk-bentuk perlawanan yang sering diimplementasikan komunitas samin ini dengan mbangkang (membangkang), nggendeng nyangkak adalah wujud dsri bentuk perlawanan tanpa kekerasan.

Menurut salah seorang samin yang penulis temui, istilah Samin berarti ‘tiyang sami-sami amin”, maksudnya kelompok orang yang senasib dan sepenanggungan. Munculnya nama Samin berasal dari gerakan gerombolan rampok Saminisme yang dipimpin oleh Surowidjoyo atau Raden Suratmoko.
Raden Surowidjoyo ini anak seorang bupati Suromoto. Ia merasa prihatin melihat bangsanya dipaksa membayar pajak dengan kekerasan oleh pemerintah kolonial, sedangkan penarik pajak tersebut tak lain adalah kaum pribumi yang bekerja pada pemerintah kolonial.
Pajak yang harus dibayar pada para petani cukup tinggi, jika ia tidak dapat membayar sebagai gantinya para petani itu harus menyerahkan harta bendanya berupa ternak, makanan pokok, maupun barang keperluan rumah tangga. melihat perilaku bangsa pribumi yang menjadi antek Belanda, Raden Surowidjoyo pergi ke Kadipaten dan bergabung dengan gerombolan perampok. Gerombolan perampok itu bernama Tiyang sami-sami amin.
Orang-orang samin sebenarnya kurang suka dengan sebutan ‘Wong Samin”, sebab sebutan tersebut mengandung arti tidak terpuji yaitu dianggap sekelompok orang yang tidak mau membayar pajak, sering membantah dan menyangkal aturan yang telah ditetapkan, sering keluar masuk penjara, sering mencuri kayu jati dan perkawinannya tidak dilaksanakan menurut hukum islam.
Para pengikut Saminisme lebih suka disebut “Wong Sikep” atau “Sedulur Sikep”, artinya orang yang bertanggung jawab, sebutan untuk orang yang berkonotasi baik dan jujur.
Dari penuturan seorang warga yang penulis temui, ajaran saminisme mulai pertama kali disebarkan oleh Samin Surosentiko, seorang pangeran. Nama Samin adalah nama samaran dari Raden Kohar bangsawan, guru kebatinan yang mempunyai nama samaran Suro Kuncung menurut serat punjer kawitan. Raden Kohar ini adalah salah satu dari lima bersaudara Raden Surowidjoyo, sesepuh Samin.
Paham Saminisme dinamakan juga “Agama Nabi Adam”, sebab ajaran Saminisme yang terwariskan hingga kini sebenarnya mencuatkan nilai-nilai kebenaran, kesederhanaan, kebersamaan, keadilan, dan kerja keras.
Pertama, ojo drengki srei, tukar padu, dahwen kemiren, kutil jumput, lan mbedog colong. Artinya, jangan berhati jahat, bertengkar, iri hati, dan mencuri.
Kedua, pangucap budhelane ono pitu, lan pangucap saka sanga bundhelane ana pitu.

Maksudnya, perkataan dari angka lima ikatannya ada tujuh, dan perkataan dari angka sembilan ikatannya ada tujuh. Maksud dari simbol itu agar manusia memelihara mulut dari tutur kata tak berguna dan menyakitkan hati.
Ketiga, lakonana sabar atau jalani hidup dengan sabar.
Orang Samin juga punya acuan figur bernama Puntadewa. Raja Amarta di dunia pewayangan merupakan tipikal orang sabar, jujur, pantang berbohong, selalu berkata apa adanya. Tak heran bila hingga saat ini wayang kulit masih menjadi tontonan favorit dalam komunitas ini.

Dalam hal mata pencaharian misalnya, mereka hanya menggeluti pekerjaan petani, menggembala sapi atau kambing. Atau sesekali nyambi menjadi tukang ojek. Pekerjaan berdagang, menurut paham Saminisme sangat dijauhi karena lebih dekat dengan kebohongan.
Bahkan ada sebuah cerita, saat sesepuh Wong Samin ini diinterogasi polisi hutan gara-garanya rumah miliknya dibangun dari kayu curian. Ketika rumah itu akan disita, dia dengan enteng menjawab, “boleh disita, tapi berikan pada kami”. Petugas pusing juga. Rumah itu akan dirobohkan. “Boleh, tapi semua rumah harus dirobohkan, termasuk milik Pak Presiden”.
Generasi Samin masa kini telah lama menjalani perilaku wong sikep (sebutan suku samin) selama ini, yang mengajarkan agar jangan menyakiti orang lain kalau tidak ingin disakiti, harus saling hormat menghormati sesama manusia di dunia, dan jangan pernah mengambil apapun yang bukan haknya. Juga, beberapa ajaran lain yang mengikat masyarakat agar tidak berbuat kejahatan.
San realitanya hingga saat ini, tepo sliro (rasa saling menghormati) dan tingkat kerukunan masyarakatnya memang tinggi. Mereka biasa saling membantu dalam keadaan apapun.
Kalaupun ada pencurian dalam komunitas ini, Wong Samin hanya mengambil kayu jati, itupun hanya sebatas untuk kayu bakar karena nenek moyang mereka dahulu ikut menanam jati di hutan tersebut. ajaran Samin ada 3 yaitu, angger-angger pangucap (hukum bicara), angger-angger pratikel (hukum tindak tanduk), dan angger-angger lakonono (hukum perihal yang perlu dijalankan). Semetara konsep ajaran Samin yang diikuti pengikut ada 6, diantaranya tidak bersekolah, tidak memakai peci tetapi memakai iket yaitu semacam kain yang diikatkan di kepala mirip orang Jawa zaman dahulu, tidak berpoligami, tidak memakai celana panjang dan hanya memakai celana selutut, tidak berdagang, dan menolak segala bentuk kapitalisme.

Kesenian Tayub Kabupaten Blora

Blora, InfoPublik - Seni tayub adalah milik rakyat  Blora, punya ciri dan ritme musik serta kostum yang tidak dimiliki daerah lain. Kehidupan penarinya sangat menarik untuk diapresiasi. Betapa tidak? Selalu berjuang dan bertahan dengan kesenian tradisional di antara kembang maraknya kesenian lain. Melalui vokal dan gerakan tari, sosok penari tayub mampu menjadi sugesti dan media komunikasi yang aspiratif serta inspiratif sejak dari dulu hingga kini. 
“Sebagai seni yang komunikatif, saya bangga, dan telah menggerakkan hati saya untuk tetap melestarikan seni adiluhung itu dalam wadah dan  pembinaan berkesenian, apalagi muncul gagrak  Ledhek Barangan yang penarinya pelajar dan mahasiswa,” tandas Yeti Romdonah, salah seorang pemerhati seni tradisi yang juga PNS, yang membidangi kebudayaan di lingkup DPPKKI Blora.
Diungkapkan, pembinaan yang dilakukan secara kontinyu oleh Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) Blora dalam perjalanan sekian puluh tahun terakhir, kata dia, telah berhasil memprotek kesan minir kepada sosok penari tayub.
“Dengan mengemas tata panggung, estetika, dan etika menari, seperti dalam bentuk festival tayub atau pertunjukkan panggung terbuka yang sering digelar, kian hari kian menambah komunitas tayub,” ujar Yeti yang juga mantan penyiar radio itu.
Tanpa mengesampingkan seni tradisi dan moderen lainnya, diakui atau tidak, penari-penari tayub baru bermunculan dari desa di tiap wilayah kecamatan se-Blora, yang belakangan mampu mengangkat citra Blora menjadi gudangnya penari tayub setelah julukan kota sate dan penghasil kayu jati serta minyak dan gas.
Seni tayub, kata dia,  sudah menjadi ajang yang komunikatif dan siapapun bisa masuk menikati secara berpasangan tanpa mengenal kasta, bahkan bisa masuk  untuk menyampaikan hal-hal yang bersifat membangun dan pemberdayaan.
“Pak Bupati Djoko Nugroho juga memberikan apresiasi yang positif pada seni tayub,” ujarnya.
Ditegaskan dan diajak, kepada semua warga masyarakat agar ikut melestarikan seni tayub sebagai seni peninggalan nenek moyang yang menghisi banyaknya ragam budaya Blora.
 “Terutama orang tua yang putra-putrinya mempunyai bakat seni tari, sebaiknya di didukung. Kan banyak sekolah seni yang mampu mencetak seniman-seniman handal. Jadi tidak cukup autodidak, melainkan disertai disiplin ilmu yang mumpuni,” katanya.
Sebab, seiring irama perkembangan serta peradaban budaya, maka seperti halnya dengan perkembangan seni tradisi yang lain, tayub Blora telah mengalami pelebaran fungsi.
Fungsi ritual, meskipun sampai kini masih dipertahankan, namum secara makro kebanyakan komunitas tayub telah menjadikan tayub sebagai seni hiburan, yang setiap saat bisa untuk dikonsumsi. Banyak kaset, kepingan CD tayub yang beredar di pasaran, yang setiap saat bisa divisualisasikan.
“Hal itu menunjukkan pernak-pernik kehidupan penari tayub Blora sekarang ini tampak lebih mapan dan berkecukupan, komunitasnya pun makin bermunculan,” ungkapnya. (Ahmad/Kus)